Senin, 29 Februari 2016

HUBUNGAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KEPUASAN KERJA SERTA DAMPAKNYA TERHADAPKINERJA PEGAWAI



HUBUNGAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
TERHADAP KEPUASAN KERJA SERTA DAMPAKNYA
TERHADAPKINERJA PEGAWAI

Penyusun :
Hany Masfufah         (14051046)
UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA


·         PENDAHULUAN

Perusahaan pada umumnya menginginkan adanya sebuah sistem manajemen yang efektif dan efisien, artinya dapat berubah dan menyesuaikan diri di setiap perubahan yang terjadi, sehingga perusahaan dapat tetap bertahan, dengan berorientasi kepada pencapaian tujuan perusahaan. Manajemen yang baik dapat terwujud dengan adanya sumber daya manusia yang dapat diandalkan perusahaan. Pada hampir semua perusahaan yang
ada, karyawan merupakan salah satu aset yang mereka jaga dan kembangkan. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk senantiasa mengoptimalkan kinerja, kompensasi, motivasi, termasuk kepuasan kerja para karyawannya. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja
karyawan, antara lain adalah kepemimpinan transformasional. Berbagai macam hambatan akan ditemui karyawan untuk dapat bekerja dengan baik, maka perlu adanya kepemimpinan yang mampu mempengaruhi bawahannya dalam mengarahkan dan menetapkan transformasi (perubahan) kinerja karyawan ke arah yang lebih baik, sehingga karyawan memiliki kepercayaan terhadap dirinya sendiri untuk dapat melakukan tugas sesuai kemampuan dan kompetensi yang dimilikinya.
Kepemimpinan transformasional yang efektif mampu membuat perubahan yang signifikan terhadap perusahaan. Misalnya dalam perusahaan para karyawan yang bekerja di perusahaan mendapat motivasi tinggi yang diberikan oleh pemimpin di perusahaan, merekapun terpacu dengan motivasi dari pemimpin dengan cara menargetkan pekerjaannya untuk kepentingan perusahaan.
Kepuasan kerja, sebagaimana dikemukakan oleh Riggio (1990), merupakan faktor penting yang mempengaruhi kepuasan hidup karyawan karena sebagian besar waktu karyawan digunakan untuk bekerja. Herzberg (dalam Wixley dan Jukl, 1988) mengemukakan bahwa kepuasan kerja didukung oleh lima faktor yang meliputi: pekerjaan, rekan kerja, gaji, kesejahteraan karyawan, promosi, dan pemimpin.


·         PERMASALAHAN

1.       Bagaimana cara kepemimpinan transformasional mempengaruhi kepuasan kerja karyawan serta apa dampaknya terhadap kinerja pegawai?

·         PEMBAHASAM

Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan (leadership) didefinisikan beragam oleh para ahli namun secara umum kepemimpinan menggambarkan hubungan antara pimpinan (leader) dengan yang dipimpin (follower) (Locander, 2002). Locander (2002) lebih lanjut menjelaskan bahwa kepemimpinann mengandung makna pemimpin mempengaruhi yang dipimpin tapi hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin bersifat saling menguntungkan kedua belah pihak. Lok dan Crawford (2001) memandang kepemimpinansebagai sebuah proses mempengaruhi aktivitas suatu organisasi dalam upaya menetapkan dan mencapai tujuan. Sejalan dengan uraian di atas, Andrews dan Field (dalam Nugroho, 2006) menyimpulkan 3 elemen penting yang harus ada dalam kepemimpinan yaitu: pemimpin, yang dipimpin, dan interaksi diantara keduanya. Tanpa ketiga elemen penting tersebut, maka kepemimpinan tidak akan pernah ada.
Pada dasarnya, kepemimpinan merupakan kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi karyawan dalam sebuah organisasi, sehingga mereka termotivasi untuk mencapai tujuanorganisasi. Dalam memberikan penilaian terhadapgaya kepemimpinan yang diterapkan pemimpin, karyawan melakukan proses kognitif untuk menerima, mengorganisasikan, dan memberi penafsiran terhadap pemimpin (Tondok &Andarika, 2004)
Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional adalah pemimpin yang memotivasi bawahan untuk bekerja demi tercapai sasaran organisasi dan memuaskan kebutuhan mereka pada tingkat lebih tinggi (Burn, 1978). Kepemimpinan (transformational leadership) berdasarkan prinsip pengembangan bawahan (follower development). Pemimpin transformasional mengevaluasi kemampuan dan potensi masing-masing bawahan untuk menjalankan suatu tugas/pekerjaan, sekaligus melihat kemungkinan untuk memperluas tanggung jawab dan kewenangan bawahan di masa mendatang (Nugroho, 2006). Dengan kepemimpinan transformasional, para pengikut merasakan kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan penghormatan terhadap pemimpin, dan mereka termotivasi untuk melakukan lebih daripada yang awalnya diharapkan dari mereka.
Bass (1990) dan Yukl (1998) mengemukakan bahwa hubungan pemimpin transaksional dengan karyawan tercermin dari tiga hal yakni:
1)      Pemimpin mengetahui apa yang diinginkan karyawan dan menjelasakan apa yang akan mereka dapatkan apabila kerjanya sesuai dengan harapan.
2)      Pemimpin menukar usaha-usaha yang dilakukan oleh karyawan dengan imbalan.
3)      Pemimpin responsif terhadap kepentingan pribadi karyawan selama kepentingan tersebut sebanding dengan nilai pekerjaan yang telah dilakukan karyawan.
Ciri Kepemimpinan transformasional :
·Idealized influence (Pengaruh yang diidealkan)
·Intellectual stimulation (Stimulasi intelektual)
·Individual concideration (Kepedulian secara perorangan)
·Inspirational motivation (Motivasi yang inspirasional)

Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja merupakan salah satu bentuk hasil perilaku karyawan dalam organisasi. Selanjutnya kepuasan kerja dapat mempengaruhi perilaku kerja seperti motivasi dan semangat kerja, produktivitas atau prestasi kerja, dan bentuk perilaku kerja lainnya. Siklus responstimulus respon perilaku karyawan ini selalu terjadi berulang-ulang dan terus berkembang. Sebagai contoh tentang hubungan antara motivasi dan kepuasan
kerja. Motivasi seseorang akan mewujudkan suatu perilaku yang diarahkan pada tujuan mencapai sasaran kepuasan kerja (Reksohadiprodjo dan Handoko, 2003 : 178). Kepuasan kerja terjadi apabila kebutuhan-kebutuhan individu sudah terpenuhi dan terkait dengan derajat kesukaan dan ketidaksukaan karyawan. Hal ini merupakan sikap umum yang dimiliki oleh karyawan yang erat kaitannya dengan imbalan yang mereka yakini akan diterima setelah melakukan sebuah pengorbanan (Robbins, 2003:91).
Davis dan Newstrom (2001) merumuskan beberapa indikator yang menentukan kepuasan kerja pegawai, yaitu :
(1) Pekerjaan itu sendiri,
(2) Upah, Gaji, Bonus;
(3) Kesempatan promosi;
(4) Pengawasan;
(5) Rekan kerja.

Kinerja Pegawai
Setiap manusia mempunyai potensi untuk bertindak dalam berbagai bentuk aktivitas. Kemampuan bertindak itu dapat diperoleh manusia secara alami (ada sejak lahir) atau dipelajari. Walaupun manusia mempunyai potensi untuk berperilaku tertentu tetapi perilaku itu hanya diaktualisasi pada saat-saat tertentu saja. Potensi untuk berperilaku tertentu itu disebut ability (kemampuan), sedangkan ekspresi dari potensi ini dikenal sebagaiperformance (kinerja).
Menurut Hasibuan (2006) dalam Riyadi (2011) kinerja adalah suatu hasil kerja yang
dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. Sedangkan Timpe
(1992) dalam Riyadi (2011) menyatakan bahwa kinerja adalah tingkat prestasi seseorang atau
karyawan dalam suatu organisasi atau perusahaan yang dapat meningkatkan produktifitas. Dari beberapa pengertian kinerja di atas maka dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah suatu prestasi yang dicapai oleh seseorangdalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya, sesuai dengan standar kriteria yang ditetapkan dalam pekerjaan itu. Prestasi yang dicapai ini akan menghasilkan suatu kepuasan kerja yang nantinya akan berpengaruh pada kinerja. Dessler (2009) merumuskan indikator-indikator untuk menilai kinerja yaitu meliputi:
1.      Kualitas kerja adalah akuransi, ketelitian,dan bisa diterima atas pekerjaan yang dilakukan.
2.      Produktivitas adalah kuantitas dan efisiensi kerja yang dihasilkan dalam periode waktu tertentu.
3.      Pengetahuan pekerjaan adalah keterampilan dan informasi praktis/teknis yang digunakan pada pekerjaan.
4.      Bisa diandalkan adalah sejauh mana seorang karyawan bisa diandalkan atas penyelesaian dan tindak lanjut tugas
5.      Kehadiran adalah sejauh mana karyawan tepat waktu, mengamati periode istirahat/makan yang ditentukan dan catatankehadiran secara keseluruhan.
6.      Kemandirian adalah sejauh mana pekerjaan yang dilakukan dengan atautanpa pengawasan.

Pengaruh kepemimpinan terhadap kepuasan kerja, yaitu kepemimpinan bisa memotivasi karyawan karena motivasi adalah salah satu faktor yang membuat timbulnya kepuasan kerja .
Motivasi adalah unsur yang bisa memacu tingginya keyakinan dalam diri karyawan, setiap karyawan bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan, dengan karyawan memberikan yang terbaik baik perusahaan, maka ia merasa bahwa dirinya begitu penting untuk perusahaan.
Menurut Toha (1990: 202) mengarahkan pegawai untuk mencapai suatu tujuan yaitu dengan memotivasi pegawai secara individulah yang paling baik, karena masing-masing individu dalam melaksanakan aktivitas mempunyai tujuan sendiri-sendiri, sehingga untuk menyatukan tujuan tersebut pimpinan hendaknya memperhatikan dengan memotivasi agar aktivitas pegawai tidak menyimpang jauh dengan tujuan perusahaan.










PENUTUP
·        Kesimpulan

Disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu tugas (amanah), tanggung jawab dari Tuhan melalui proses mempengaruhi aktivitas suatu perusahaanuntuk mencapai tujuan yang diinginkan yang akan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan anggota yang dipimpin.
Dengan adanya kepemimpinan transformasional kerja karyawan menjadi lebih disiplin dalam hal kehadiran, mentaati peraturan yang berlaku, sanksi hukuman, tanggung jawab, serta mentaati peraturan dan prosedur kerja




















DAFTAR PUSTAKA
ü  Chasanah, N. 2008. Analisis Pengaruh Empowerpoint, Self efficacy dan Budaya Organisasi TerhadapKepuasan Kerja Karyawan Dalam Meningkatkan Kinerja Karyawan ( PT. Mayora Tbk Regional Jateng)Hal 71. Universitas Diponegoro. Semarang.
ü  Bass, B.M., B.J. Avolio, D.I. Jung & Y. Berson 2003. Predicting unit performance by assessing transformational and transactional leadership. Journal of Applied Psychology,Vol. 88, No. 2, Hal: 207-218
ü  Ancok, D., 2012. PsikologiKepemimpinan & Inovasi:Modal Kepemimpinan. Jakarta : Erlangga.
ü  Steane, P., & Ma Jin Hua. (2002). What iseffective leadership? A comparativestudy of leadership behaviour. Available on http://www.ifsam.org/2002/organisational-behaviour/ Steane_Hua_PUB.htm, 2002.
ü  Astuti, Dyah Ayu Lestari Windi (2006). PenciptaanSistem Penilaian Kinerja yang Efektif denganAssessement Centre. Jurnal Manajemen, Vol. 6, No. 1: 23-34

Tidak ada komentar:

Posting Komentar